Sabtu, 25 Februari 2012

POKOK AJARAN ISLAM DAN PONDASINYA

PENJELASAN ASHLU DIENIL ISLAM

(SYARH ASHLI DIENIL ISLAM)

PENULIS: AL IMAM ABDURRAHMAN IBNU HASAN IBNU MUHAMMAD IBNU ABDIL WAHHAB

ALIH BAHASA: ABU SULAIMAN

Ucapan (Syaikh Muhammad) rahimahullah: Ashlu Dinil Islam Wa Qa’idatuhu ada dua:

Pertama:

  • Perintah untuk beribadah kepada Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya.
  • Penekanan akan hal itu.
  • Muwaalaah (melakukan loyalitas) di dalamnya.
  • Dan mengkafirkan orang yang meninggalkan Tauhid.

Saya berkata: Dan dalil-dalil ini di dalam Al Qur’an adalah lebih banyak untuk dihitung seperti firman-Nya:

“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun da tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” (Ali Imran: 64).

Allah memerintahkan Nabi-Nya agar mengajak ahli kitab kepada makna Laa ilaaha Illallah yang dimana beliau mengajak orang-orang arab dan umat yang lainnya kepada makna kalimat itu. Sedangkan kalimat itu70 adalah Laa Ilaaha Illallah yang ditafsirkan dengan firman-Nya: bahwa tidak kita sembah kecuali Allah”

Firman-Nya: “bahwa tidak kita sembah” di dalamnya terkandung makna La Ilaaha yaitu penafian ibadah dari selain Allah. Sedangkan firman-Nya: “kecuali Allah” adalah yang dikecualikan dalam kalimat ikhlash (tauhid) Allah memerintahkan Nabi-Nya agar menyeru mereka untuk mengkhususkan ibadah hanya kepada Allah dan menafikannya dari selain-Nya. Dan ayat-ayat semacam ini banyak sekali. Dia menjelaskan bahwa Illallahiyyah itu adalah ibadah, sedangkan ibadah itu tidak layak sedikitpun ditujukan kepada selain Allah, sebagaimana firman-Nya:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia” (Al Israa: 23).

Makna “qadha” Adalah memerintahkan dan mewasiatkan, dua penafsiran yang maknanya satu. Firman-Nya: “supaya kamu jangan menyembah,” terkandung di dalamnya makna Laa Ilaaha, sedangkan firman-Nya: “selain Dia”, terkandung di dalamnya makna Illallah, dan ini adalah tauhid ibadah yang merupakan dakwah/ajaran semua Rasul di kala mereka mengatakan kepada kaum-kaumnya, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia,” dan di dalam ibadah ini haris menafikan syirik secara mutlak, berlepas diri darinya dan dan dari pelakunya, sebagaimana firrman Allah tentang Khalil-Nya Ibrahim:

“Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhanku yang telah menjadikanku,” (Az Zukhruf: 26 – 27).

Mesti adanya bara’ah (berlepas dari) peribadatan terhadap sesuatu yang disembah selain Allah. Allah juga berfirman tentang Ibrahim:

“dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah,” (Maryam: 48)

wajib menjauhi/meninggalkan syirik dan pelakunya serta berlepas diri (bara’ah) dari keduanya, sebagaimana yang ditegaskan lebih lanjut oleh firman-Nya:

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia ; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja,” (Al Mumtahanah: 4).

Sedangkan orang-orang yang bersama Ibrahim itu adalah para Rasul sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jarir. Ayat ini menunjukkan atas yang telah disebutkan oleh Syaikh kami (Muhammad) rahimahullah, yaitu penekanan akan tauhid, penafian syirik, berlaku loyal terhadap ahli tauhid dan mengkafirkan orang yang meninggalkan tauhid ini dengan sebab ia melakukan syirik yang berlawanan dengannya, karena sesungguhnya orang yang melakukan syirik71 maka dia telah meninggalkan tauhid, sebab keduanya adalah dua hal yang kontradiksi lagi tidak mungkin bersatu, kapan saja syirik di dapatkan maka berarti tauhid hilang72 dan Allah telah berfirman tentang status orang yang berbuat syirik:

“ Dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu untuk sementara waktu ; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka” (Az zumar: 8)

Allah mengkafirkan dengan sebab dia mengangkat tandingan, yaitu para sekutu dalam ibadah, dan ayat-ayat semacam ini banyak sekali, sehingga:

“ orang itu tidak dikatakan muwahhid kecuali dengan menafikan syirik , berlepas dari darinya, dan mengkafirkan pelakunya. 73

Kemudian beliau rahimahullah:

Kedua:

  • Peringatan dari melakukan syirik dalam ibadah kepada Allah.
  • Kecaman yang keras dalam hal itu.
  • Melakukan permusuhan di dalamnya.
  • Dan mengkafirkan orang yang melakukannya.

Maka bangunan tauhid tidak bisa tegak kecuali dengan ini semua, ini adalah agama para Rasul, mereka memperingatkan kaumnya dari syirik, sebagaimana firman-Nya:

“Dan sesungguhnya Kami mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut itu“ (An Nahl: 36)

Dan firman-Nya:

“Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “ Bahwasannya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku,” (An Anbiya: 25).

Dan firman-Nya:

“Dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): “Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar” (Al Ahqaf: 21).

Perkataan Syaikh: “Dalam ibadah kepada Allah” Ibadah adalah nama yang mencakup segala ucapan dan perbuatan yang dicintai dan diridhai Allah, baik yang sifatnya bathin ataupun dhahir.

Perkataan Syaikh: “Kecaman yang keras dalam hal itu “ Ini ada di dalam Al Kitab dan As Sunbah, sebagaimana firman-Nya:

“Maka segeralah kembali (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu” (Adz Dzariyat: 50 – 51).

Seandainya tidak ada kecaman yang pedas (akan syirik ini) tentu tidak akan ada penyiksaaan dan penindasan yang dashyat yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy terhadap Nabi dan para sahabatnya, sebagaimana yang dijelaskan dalam sirah (sejarah). Sesungguhnya Nabi memulai mengecam mereka dengan mencaci agama mereka dan menjelek-jelekkan nenek moyang mereka.

Perkataan Syaikh: “Melakukan permusuhan di dalamnya” sebagaimana firman Allah:

“maka bunuhlah orang-orang musyrikin, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intalah di tempat pengintaian” (At Taubah: 5)

Dan ayat-ayat yang berkenaan dengan hal ini sangat banyak sekali, seperti firman-Nya:

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah,“ (A1 Anfal: 39).

Fitnah di sini adalah syirik.

Sedangkan Allah memberi cap kafir bagi orang-orang yang menyekutukannya dalam banyak ayat-ayat yang tidak terhitung, maka harus dikafirkan juga mereka itu (oleh kita), ini adalah konsekwensi Laa ilaaha illallaah kalimah ikhlash, sehingga maknanya tidak tegak kecuali dengan mengkafirkan orang yang menjadikan sekutu bagi Allah dalam ibadahnya, sebagaimana dalam hadits yang shahih: “Siapa yang mengucapkan laa ilaaha illallaah dan kafir kepada segala yang disembah selain Allah, maka dia itu haram darahnya dan hartanya, sedangkan perhitungannya adalah atas Allah,”

Sabdanya: “dan kafir kepada segala yang disembah selain Allah,“ merupakan penguat akan penafian. Maka orang itu tidak ma’shum (terjaga/haram) darah dan hartanya kecuali dengan hal itu, dan seandainya dia itu ragu atau bimbang maka harta dan darahnya tidak haram. Hal-hal ini merupakan pangkal tegaknya tauhid, karena laa ilaaha illallaah diberi batasan/syarat di dalam hadits yang banyak dengan batasan-batasan yang sangat berat, yaitu dengan:

  • Ilmu (mengetahui maknanya).
  • Ikhlash.
  • Shidqu (jujur).
  • Yakin.
  • Dan tidak ragu-ragu.

Sehingga orang tidak dikatakan muwahhid kecuali dengan kumpulnya syarat-syarat ini semua dan disertai dengan:

  • Meyakininya.
  • Menerimanya.
  • Mencintainya.
  • Melakukan mu’aadah (permusuhan) di dalamnya dan muwaalaah (loyalitas di dalamnya).

Maka dengan terkumpulnya semua yang telah disebutkan oleh Syaikh kami (Syaikh Muhammad) rahimahullah, maka tauhid itu baru tercapai.

Kemudian beliau rahimahullah berkata Orang yang ahli dalam hal ini bermacam-macam:

  1. Orang yang paling besar penyimpangannya adalah orang yang menyalahi dalam semua itu.

Dia menerima syirik dan meyakininya sebagai ajaran keyakinannya, dia mengingkari tauhid dan meyakininya sebagai kebathilan, sebagaimana halnya mayoritas manusia.

Dan penyebabnya adalah kejahilan akan kandungan Al Kitab dan As Sunnah tentang ma’rifah tauhid dan apa yang menafikannya berupa syirik, tandingan, mengikuti hawa nafsu, dan apa yang diwariskan nenek moyang, seperti keadaan orang-orang sebelum mereka dari kalangan musuh-musuh para Rasul, di mana mereka menuduh kaum muwahhidin dengan dusta, bohong, mengada-ada dan perbuatan tercela, sedang hujjah mereka adalah:

“(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapatkan nenek moyang kami berbuat demikian” (Asy Syu’araa: 74)

Macam orang ini dan macam orang-orang sesudahnya,74 mereka itu telah mengurai makna yang ditunjukan oleh kalimah Ikhlas dan tujuan darinya, serta makna yang terkandung dalamnya yaitu agama yang di mana Allah tidak menerima agama selain itu. Itu adalah Islam yang dengannya Allah mengutus para Nabi dan para Rasul semuanya, serta seluruh dakwah mereka bersatu di atasnya, sebagaimana yang tidak samar lagi dalam kisah-kisah yang Allah ceritakan tentang mereka di dalam Kitab-Nya.

Kemudian beliau (syaikh Muhammad) rahimahullah berkata:

  1. Di antara manusia ada orang yang beribadah kepada Allah saja, namun dia tidak mengingkari syirik dan tidak memusuhi pelakunya.

Saya berkata: Sesungguhnya sudah termasuk hal yang maklum orang yang tidak mengingkari syirik berarti dia tidak mengetahui tauhid dan tidak bertauhid.

Sedangkan engkau sudah mengetahui bahwa tauhid itu tidak terlaksana/terealisasi kecuali dengan menafikan syirik dan kafir terhadap thaghut yang telah dituturkan dalam ayat yang lalu.

kemudian Syaikh rahimahullah berkata:

  1. Dan di antara mereka ada orang yang memusuhi orang-orang musyrik, namun tidak mengkafirkannya.

Macam orang ini juga tidak merealisasikan makna laa ilaaha illallaah berupa penafian syirik dan konsekwensinya yaitu mengkafirkan orang yang melakukannya setelah ada penjelasan75 secara ijma, dan ini adalah kandungan surat Al Ikhlash, Al Kafirun, dan firman-Nya dalam surat Al Mumtahanah:

“kami ingkari (kekafiran)mu”

Sedangkan orang yang tidak mengkafirkan orang yang telah dikafirkan oleh Al Qur’an, maka dia itu telah menyalahi yang dibawa oleh para Rasul berupa tauhid dan konsekuensinya.

Kemudian beliau rahimahullah berkata:

  1. Dan di antara mereka ada orang yang tidak mencintai tauhid dan tidak pula membencinya.

Penjelasannya: Bahwa orang yang tidak mencintai tauhid berarti dia itu tidak bertauhid, karena tauhid adalah agama yang Dia ridhai bagi hamba-hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya:

“ dan telah Ku ridhai Islam sebagai agama kalian,” (Al Maidah: 3)

Seandainya dia itu ridha dengan apa yang diridhai Allah dan mengamalkannya tentulah dia mencintainya. Dan kecintaan ini harus ada karena Islam itu tidak (bisa tegak) tanpanya, sehingga tidak ada Islam kecuali dengan mencintai tauhid.

Syaikh Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: Ikhlas adalah mencintai Allah dan menginginkan Wajah-Nya, maka siapa yang mencintai Allah, pasti dia itu mencintai agama-Nva, dan bila tidak mencintainya maka dia itu tidak cinta kepada Allah. Dengan.adanya mahabbah (kecintaan) itu kalimah ikhlas ada terbukti, sedangkan hal itu merupakan bagian dari syarat-syarat tauhid.

Kemudian Syaikh rahimahullah berkata:

  1. Di antara mereka ada orang yang tidak membenci syirik dan tidak mencintainya.

Saya berkata: Orang yang seperti ini tidak menafikan apa yang dinafikan oleh laa ilaaha illallaah, berupa syirik dan kufur kepada apa yang disembah selain Allah, serta berlepas diri (bara’ah) darinya, maka orang seperti ini sama sekali bukan orang Islam, darah dan hartanya tidak ma’shum (haram) sebagaimana yang ditunjukan oleh hadits yang lalu.

Dan perkataan beliau rahimahullah

  1. Di antara mereka ada orangnya yang tidak mengetahui syirik dan tidak mengingkarinya, serta tidak menafikannya.

Sedangkan orang itu tidak dikatakan muwahhid kecuali

  • Orang yang menafikan syirik.
  • Berlepas diri darinya.
  • Berlepas diri dari pelaku syirik.
  • Serta mengkafirkan mereka itu.

Dan dengan ketidaktahuan akan syirik ini berarti dia tidak merealisasikan sedikitpun dari makna Laa ilaaha Illallaah, sedangkan orang yang tidak menegakkan makna dan kandungan kalimat ini maka dia itu sama sekali bukan orang Islam, karena dia tidak mendatangkan (makna) kalimat ini dan kandungannya dari dasar ilmu yakin, jujur, ikhlash, cinta, qabul, dap inqiyad. Dan orang macam ini sama sekali tidak membawa sedikit pun dari syarat-syarat itu semuanya, dan bila dia itu mengucapkan laa ilaaha illallaah maka dia itu tidak mengetahui makna dan apa yang dikandung oleh kalimat itu.

Kemudian beliau rahimahullah berkata:

  1. Di antara mereka ada orang yang tidak mengetahui tauhid dan tidak mengingkarinya.

Saya katakan: Orang ini sama seperti yang sebelumnya, mereka sama sekali tidak merealisasikan tauhid yang untuknya mereka diciptakan, yaitu agama yang dengannya Allah mengutus para Rasul. Dan keadaan mereka ini sama dengan keadaan orang-orang yang Allah firmankan:

” Bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak)” (Al Furqan: 44)

Dan perkataan Syaikh rahimahullah

  1. Dan di antara mereka dan ini yang paling berbahaya ada orang yang mengamalkan tauhid, namun dia tidak mengetahui kedudukannya, tidak membenci orang yang meninggalkannya dan tidak mengkafirkan mereka itu.

Ungkapan beliau : “dan ini yang paling berbahaya” karena dia itu tidak mengetahui kedudukan apa yang dia amalkan, dan dia tidak mendatangkan hal-hal yang membenarkan/meluruskan tauhidnya, berupa syarat-syarat yang berat yang harus terpenuhi, karena engkau telah mengetahui bahwa tauhid itu menuntut penafian syirik, berlepas diri darinya, memusuhi pelakunya, dan mengkafirkan mereka itu dengan tegaknya hujjah atas mereka.76 Orang macam ini terkadang terpedaya dengan keadaannya, padahal dia itu tidak merealisasikan syarat-syarat dan konsekwensi kalimah ikhlash tersebut nafyan wa itsbaatan.

Dan begitu juga perkataan beliau rahimahullah

  1. Di antara mereka ada yang meninggalkan syirik dan membencinya, namun dia tidak mengetahui kedudukannya.

Ini lebih dekat daripada yang sebelumnya, namun dia tidak mengetahui kedudukan syirik, karena sesungguhnya dia seandainya mengetahui kedudukannya tentu dia melakukan apa yang ditunjukkan oleh ayat-ayat yang muhkamat, seperti ungkapan Al Khalil (Ibrahim):

“Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhanku yang telah menjadikanku,” (Az Zukhruf: 26 – 27).

Dan perkataannya:

“Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya,” (Al Mumtahanah : 4).

Maka orang yang telah mengetahui syirik dan meninggalkannya, dia itu harus mengambil sikap komitmen dalam walaa’ dan baraa’ dari yang menyembah dan dari yang disembah, membenci syirik, membenci pelakunya dan memusuhinya.

Dan dua macam orang ini adalah mayoritas dalam keadaan banyak orang mengaku Islam, sehingga karena kejahilan mereka akan hakikat syirik ini maka muncullah dari mereka hal-hal yang menghalangi terealisasinya makna kalimat ikhlas (tauhid) dan tuntutannya sesuai dengan kadar wajibnya yang dengannya seseorang bisa dikatakan muwahhid. Sungguh banyak sekali orang-orang yang terpedaya lagi jahil akan hakikat agama ini. Dan bila pelaku-pelaku syirik dan menvonis mereka dengan kekafiran di dalam banyak ayat yang muhkamat, seperti firman-Nya:

“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir” (At Taubah: 17)

Dan begitu juga di dalam As Sunnah, maka Syaikhul Islam rahimahullah berkata: “Ahlu tauhid dan Sunnah membenarkan para Rasul mentaatinya dalam apa yang dengannya mereka diperintahkan, menjaga apa yang mereka katakan dan memahaminya serta mengamalkan, mereka menafikan darinya tahrif yang dilakukan oleh orang-orang yang ghuluww, intihal yang dilakukan oleh para mubthiluun, dan ta’wil yang dilakukan oleh orang-orang jahil, serta mereka memerangi orang-orang yang menentang mereka dalam rangka taqarrub kepada Allah dan untuk mendapatkan pahala dari-Nya bukan dari mereka.

Sedangkan orang-orang jahil dan yang berlebih-lebihan, mereka itu tidak membedakan antara apa vang diperintahkan dengan apa yang mereka dilarang darinya, tidak membedakan antara apa yang benar bersumber dari mereka dari apa yang dusta atas nama mereka, mereka tidak memahami hakikat maksud mereka itu, dan mereka tidak berusaha untuk mentaatinya, bahkan mereka itu jahil akan apa yang dibawa oleh para Rasul dan justru mengagungkan tujuan-tujuan mereka.”

Saya berkata: Apa yang dituturkan oleh Syaikhul Islam itu sama seperti keadaan dua macam orang terakhir tadi.

Masih ada masalah ungkapan yang pernah dilontarkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, yang beliau pernah tidak melakukan takfir mu’ayyan secara langsung, karena suatu sebab yang beliau rahimahullah sebutkan yang mengharuskan beliau untuk tawaqquf dari mengkafirkannya sebelum hujjah atasnya. Beliau rahirnahullah berkata:

“Kita mengetahui dengan pasti bahwa Nabi tidak pernah mensyari’atkan bagi seorangpun untuk menyeru orang yang sudah meninggal dunia, baik itu para Nabi, orang-orang shalih atau yang lainnya baik dengan kata istighatsah atau yang lainnya, sebagaimana beliau tidak pernah mensyari’atkan bagi umatnya untuk sujud terhadap orang yang sudah mati atau sujud menghadapnya dan yang lainnya. Bahkan kita secara pasti mengetahui bahwa beliau telah melarang itu semua, dan bahwa hal itu adalah bagian dari syirik yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, namun karena meratanya kejahilan77 dan jarangnya pengetahuan akan peninggalan risalah pada banyak orang orang muta’akhirin, maka tidak mungkin mengkafirkannya dengan hal itu sehingga dijelaskan apa yang dibawa oleh Rasulullah dari apa yang menyalahinya.”

Saya berkata: Beliau rahimahullah menyebutkan sebab alasan yang memaksa beliau untuk tidak mengkafirkan secara ta’yin secara khusus kecuali setelah ada penjelasan dan terus bersikeras, (penyebab beliau tawaqquf) adalah karena beliau itu telah menjadi ummatan wahidatan (satu umat dalam satu sosok orang), dan karena di antara para ulama ada orang yang mengkafirkannya karena beliau melarang mereka dari berbuat syirik dalam ibadah, sehingga beliau tidak mungkin memperlakukan sebagaimana mereka kecuali dengan apa yang beliau lontarkan itu, sebagaimana yang telah pernah dialami oleh syaikh kami Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah di awal-awal dakwahnya, sesungguhnya beliau bila mendengar orang-orang menyeru Zaid Ibnu Al Khaththab, beliau (Syaikh) berkata: “Allah itu lebih baik dari Zaid” ini untuk membiasakan mereka dalam menafikan syirik dengan kata-kata yang lembut, untuk tujuan dakwah dan supaya tidak membuat orang lari. Allah lebih mengetahui.

--------------------------------------------------------------------

70 Maksud kalimat yang ada dalam ayat tadi.pent

71 Apapun alasannya tanpa kecuali orang jahil, muqallid, muta’awwil, atau mujtahid. pent

72 Tidak ada perbedaan antara dia itu jahil atau tahu, Syaikh Abdul Azaiz Ibnu Baz berkata setelah menjelaskan status orang yang menyeru dan istighatsah dengan orang yang sudah mati padahal mereka jahil, beliau rahi mahullah jelaskan bahwa dia itu musyrik kafir dan setelah itu beliau berkata: Dan tidak usah dihiraukan akan status mereka itu sebagai orang-orang jahil, bahkan wajib diperlakukan layaknya orang-orang kafir hingga taubat kepada Allah dari hal itu…Tuhfatul Ikhwan: 38 fatwa no: 6 pent

73 Al Imam Al Barbahariy berkata dalam Syarhus Sunnahnya:

“Dan tidak dikeluarkan seorangpun dari Ahlul kiblah dari Islam sehingga ia menolak satu ayat dari kitabullah atau menolak sebagaian besar Atsar-Atsar Rasulullah atau shalat kepada selain Allah atau menyembelih untuk selain Allah dan bila ia melakukan satu dari hal itu maka wajib atas kamu untuk mengeluarkan dia dari lingkungan Islam.”

Lihatlah seorang arab badui yang selama ini ia bersama kaumnya mengucapkan dua kalimah syahadat, namun perbuatan mereka bertentangan dengan tauhid, terus ada muthawwi (Ustad kalau di kita) yang tetap menamakan mereka sebagai orang Islam. Dia (orang badui) itu setelah mengetahui dakwah Syaikh Muhammad dan konsekuewensinya dia langsung mempraktekkan, Syaikh Muhammad menuturkan tentang dia dalam Syarah Sittati Mawadli Minas Sirah di akhir sekali:

,” Sungguh indah sekali apa yang diucapkan oleh seorang arab badui tatkala ia telah tiba kepada kami dan mendengar sedikit tentang Islam (maksudnya yang diajarkan oleh Syaikh yang berbeda dengan yang mereka pegang selama ini, pent), dia langsung berkata: saya bersaksi bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang kafir – yaitu dia dan seluruh orang badui – dan saya bersaksi bahwa muthawwi’ yang menamakan kami umat Islam sesungguhnya dia kafir juga”.

74 Maksudnya macam-macam yang akan disebutkan. Pent

75 Ini untuk takfir, karena takfir terjadi setelah ada risalah dan dakwah, dan orang yang berada di suatu masa atau negeri yang di mana dakwah tauhid tidak ada dan kebodohan merajalela terus mereka itu tidak dikafirkan terlebih dahulu sebelum diingatkan, adapun nama musyrik maka itu sudah menempel pada mereka, karena status musyrik itu tidak ada hubungannya dengan masalah risalah atau bulughul hujjah, berbeda dengan status kafir. Adapun kalau orang melakukan syirik pada saat dakwah tauhid tegak, dunia terbuka, informasi mudah, dan kemungkinan untuk mencari ada maka orang yang menyekutukan Allah itu itu divonis musyrik kafir murtad meskipun dia jahil, karena dia berpaling dan tidak mau belajar. Silahkan lihat AI Mutammimah Li Kalaami A’immatid Dakwah fl Mas’alatil Jahli Fisy Syirkil Akbar, Ali Al Khudlair, Hukmi Takfiril Mu’ayyan wal Farqu Baina Qiyamil Hujjah Wa Fahmil Hujjah, Imam lshaq lbnu Abdirrahman lbnu Hasan Ibnu Muhammad lbnu Abdil Wahhab.

76 Syaikh Ishaq Ibnu Abdirrahman Ibni Hasan Ibni Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata: Dan hujjah itu sudah tegak atas manusia dengan Rasul dan AI Qur’an. (Hukmu Takfiril Mu’ayyan dalam Aqidatul Muwahhidin: 150) dan beliau berkata lagi: Dan perhatikanlah ungkapan Syaikh (Muhammad) rahimahullah bahwa setiap orang yang telah sampai AI Qur’’an kepadanya maka huijah itu sudah tegak atasnya meskipun dia tidak paham akan hal itu. (156)Pent

77 Yang beliau tawaqquf itu adalah vonis kafir, karena zaman itu beliau hukumi dengan zaman fatrah, beliau berkata dalam Al Fatawaa: Bila ilmu melemah, dan kemampuan (untuk menerimanya) juga melernah, maka masa itu menjadi masa fatrah” Dan para imam dakwah Najdiyyah telah ijma bahwa masa munculnya Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab adalah zaman fatrah dan bahwa zaman munculnya Syaikh Ibnu Taimiyyah adalah zaman fatrah dan meratanya kejahilan. Lihat Al Haqaa-iq Ali AI Khudlair: 15, sehingga tidak dikafirkan terlebih dahulu sehingga diberi penjelasan, namun ini berbeda dengan nama musyrik, nama ini menempel dengan langsung saat orang menyekutukan Allah tanpa ada hubungannya dengan hujjah risaliyyah, Syikhul Islam berkata: Nama musyrik adalah telah tetap sebelum ada risalah, karena orang itu menyekutukan Tuhannya dan menetapkan tandingan bagi-Nya.. “Al Fatawaa: 20/38, 1”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar