Minggu, 26 Februari 2012

ALLAH TAALA DI ATAS ARASY-NYA

Allah Taala di Atas ArasyNya

BANTAHAN TERHADAP JAHMIYYAH

(AR RADDU ‘ALAL JAHMIY)

PENULIS: AL IMAM ABDURRAHMAN IBNU HASAN IBNU MUHAMMAD IBNU ABDIL WAHHAB

ALIH BAHASA: ABU SULAIMAN

Segala puji bagi Allah Rabbul’alamin, semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Muhammad Nabi yang jujur lagi terpercaya, keluarganya dan para sahabatnya. Wa ba’du:

Telah datang kepada kami beberapa pertanyaan dari Amman yang bersumber dari seorang Jahmiyy yang sesat yang banyak memperdaya sebagian kaum muslimin dengannya. Maka selayaknya kami jawab dengan jawaban yang berfaidah bagi pencari ilmu, dan adapun yang tidak ada faidahnya maka tidak butuh menyibukkan diri untuk menjawabnya. Di antara yang layak kami jawab adalah pernyataan dia: Bahwa isim (nama) itu dibentuk dari kata sumuww (tinggi) atau simah (tanda), dan pembentukan isim dari dua kata ini telah disebutkan oleh para ulama rahimahumullah dalam kitab-kitab mereka, namun yang mesti kita tanyakan adalah cara pembentukan (isytiqaq) ini, dan apa makna isytiqaq yang disebutkan oleh para ulama itu, kita meminta dia agar menjawab dua hal ini. Bila kedua hal ini telah disebutkan oleh para ulama ahli nahwu dan yang lainnya, dan saya telah menyebutkannya dalam Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid.

Adapun pertanyaan, dia tentang perbedaan antara qadha dan qadar, maka (ini jawabannya) qadar adalah salah satu dari pokok keimanan sebagaimana dalam pertanyaan Jibril ‘alaihissalam, dan apa yang dijawab oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat Jibril bertanya kepada beliau tentang Iman:

”Iman adalah engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan kita iman kepada qadar yang baik dan yang buruk,”

Dan dalam hadits yang shahih:

”Sesungguhnya di awal Allah menciptakan pena, Dia berfirman kepadanya: Tulislah, maka pena itu menulis apa yang terjadi hingga hari kiamat,”

Yaitu menulis apa yang akan terjadi dari hal-hal yang Allah subhaanahu wa ta’ala ketahui, karena sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’ala mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, dan apa yang tidak terjadi bila terjadi bagaimana keadaannya, Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:

” Tidak ada tersembunyi daripada-Nya seberat zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz), “ ( Sabaa: 3).

Adapun qadha dalam Al Qur’an dipakai untuk makna iijaadul muqaddar (menciptakan apa yang ditaqdirkan) seperti Firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

”Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua hari,” (Fushshilat: 12).

Dan firman-Nya subhaanahu wa ta’ ala:

” Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap,” (Sabaa: 14).

Dan dipakai juga untuk makna pemberitaan tentang apa yang akan terjadi dari apa yang telah ditentukan, seperti firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

” Dan telah Kami tetapkan terhadap bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dua kali” (Al Isra: 4).

Allah subhaanahu wa ta’ala memberitahukan bahwa mereka itu akan membuat kerusakan di muka bumi dua kali.

Dan dipakai juga untuk makna perintah dan wasiat sebagaimana firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

” Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia” (Al Israa: 23).

Yaitu Dia memerintahkan dan mewasiatkan.

Juga dipakai untuk makna hukum / memutuskan, seperti firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

” dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil” (Az Zumar: 75).

Dan dipakai juga untuk makna qadar dan yang lainnya.

Adapun klaim dia bahwa dalil-dalil yang menunjukan akan istiwaa Allah di atas Arasy-Nya itu tidak menghalangi bahwa Dia itu istiwaa juga di atas yang lainnya, maka jawabannya adalah kita katakan: Ahlusunnah wal jama’ah yang dahulu dan yang sekarang telah ijma’ bahwa Allah itu tidak boleh disifati dengan sifat-sifat yang tidak ditetapkan Allah bagi Dzat-Nya dan tidak ditetapkan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam bagiNya. Dan barangsiapa mensifati Allah dengan sifat-sifat yang tidak ditetapkan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia itu adalah orang Jahmiyyah yang sesat lagi menyesatkan yang berkata atas Allah tanpa dasar ilmu.

Allah subhaanahu wa ta’ala telah menyebutkan istiwaa’ Dia di atas Arasy-Nya dalam tujuh tempat di dalam Kitab-Nya:

  • Dalam surat Al A’raf.
  • Dalam surat Yunus.
  • Dalam surat Arra’du.
  • Dalam surat Thahaa.
  • Dalam surat Al Furqan.
  • Dalam surat Assajdah.
  • Dab dalam surat Al Hadid.

Dan Allah subhaanahu wa ta’ala tidak menyebutkan bahwa Dia bersemayam di atas yang selain Arasy, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak menyebutkannya, maka diketahuilah bahwa hal itu (beristiwaa di atas selain Arasy) bukanlah sifat yang layak ditetapkan bagi Allah. Barangsiapa memasukan dalam sifat-sifat Allah sesuatu yang tidak disebutkan dalam Kitab-Nya dan tidak pula dalam Sunnah Rasul-nya maka dia itu adalah Jahmiyy yang berkata atas Allah tanpa dasar ilmu. Allah subhaanahu wa ta’ala telah mengatakan:

” Malaikat-Malaikat dan Jibril naik (menhadap) Tuhannya” (Al Ma’aarij: 4).

Firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

” Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikan” (Fathir: 10).

Firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

” Mereka takut terhadap tuhan mereka yang ada di atas mereka” (An Nahl: 50).

Firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

” Sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku” (Ali Imran: 55).

Firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

” Tetapi (sebenarnya) Allah telah mengangkat Isa Kepada-Nya” (An Nisaa: 158).

Firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

” dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar” (Al Baqarah: 155).

Firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

” dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar” (Sabaa: 23).

Tinggi kedudukan-Nya, tinggi penguasaan-Nya dan tinggi Dzat-Nya. Tidak boleh disifati kecuali dengan hal itu semua karena kemahasempurnaan-Nya subhaanahu wa ta’ala dalam sifat-sifat-Nya. Bagi-Nya kesempurnaan yang muthlak dalam semua sifat-sifatNya yang telah Dia tetapkan dan telah ditetapkan oleh Rasul-Nya bagi Dzat Allah subhaanahu wa ta’ala. Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:

”(Dia-lah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya Yang mempunyai Arasy” (Al Mukmin: 15).

Penyebutan Arasy bergandengan dengan sifat ini merupakan di antara dalil yang menunjukan fauqiyyah-Nya subhaanahu wa ta’ala sebagaimana yang ditegaskan dalam ayat-ayat yang lalu, dan seperti Firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

” Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya (karena kebesaran Tuhan) dan Malaikat-Malaikat bertasbih serta memuji Tuhan-Nya” (Asy Syuraa: 5).

Nabi shallallahu’ alaihi wa sallam menyebutkan hadits yang semakna dengan Firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

”Dia-lah yang Awal dan Yang Akhir Yang Dhahir dan Yang Bathin” (Al Hadid: 3).

Yaitu sabda-Nya, ”Ya Allah Engkau adalah Yang Awal, tidak ada sesuatupun sebelum Engkau, Engkau adalah Yang paling Akhir tidak ada sesuatupun sesudah Engkau, Engkau adalah Adh Dhahhir tidak ada sesuatupun di atas Engkau, dan Engkau adalah Yang Bathin tidak ada sesuatupun yang luput dari-Mu “

Sabdanya, ”Tidak ada sesuatupun di atas Engkau,” merupakan nash yang tegas bahwa Allah ada di atas semua makhlukNya, dan ini adalah penafsiran yang ada dari para sahabat, tabi’in dan yang lainnya saat menafsirkan Firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

”(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah,yang bersemayam di atas Arasy-Nya” (Thahaa: 5).

Bahwa makna istawaa adalah istaqarra/irtafala/ dan ‘alaa yang semuanya satu makna, tidak ada yang mengingkari hal ini kecuali Jahmiyyah zindiq yang menta’thilkan Allah, Nama-NamaNya dan Sifat-SifatNya, semoga Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka bisa dipalingkan dari kebenaran sedangkan nash-nash yang menunjukan akan itsbat Sifat-Sifat itu adalah sangat banyak. Ulama Ahlus Sunnah dari kalangan ahli hadits dan ulama lainnya telah mengarang karangan yang sangat besar, di antaranya:

  • Kitabus sunnah karya Abdullah Ibnu Al Imam Ahmad, di dalamnya beliau menyebutkan perkataan para sahabat, tabi’in dan para imam.
  • Kitabut tauhid karya Imamul Aimmah Muhammad Ibnu Khuzaimah.
  • Kitabus sunnah karya Al Atsram murid Imam Ahmad.
  • Kitab Usman Ibnu Said Ad Darimiyy dalam bantahannya terhadap Al Marriisiy.
  • Kitabus sunnah karya Al Khallal.
  • Kitab Al ‘Uluww karya Adz Dzahabiy
  • Dan yang lainnya yang banyak tidak terhitung, segala karunia dan pujian milik Allah.

Sekarang kami sebutkan hadits-hadits yang menunjukan akan makna ini, di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari An Nawwas Ibnu Sam’an, beliau berkata: Rasulullah shallallahu’ alaihi wa sallam bersabda:

”Bila Allah subhaanahu wa ta’ala ingin mewahyukan sesuatu, Dia berbicara dengan wahyu maka langitpun bergetar, atau goncang dengan dahsyat karena merasa takut kepada Allah subhaanahu wa ta’ala, dan bila para penghuni langit mendengar hal itu mereka jatuh pingsan dan sujud kepada Allah. Dan yang paling pertama kali mengangkat kepalanya adalah Jibril, terus dia diajak berbicara oleh Allah dari wahyu-Nya dengan apa yang Allah inginkan. Kemudian Jibril melewati para malaikat, setiap dia melewati setiap langit para malaikat yang ada di langit itu bertanya: Apa yang difirmankan oleh Tuhan kita wahai Jibril? Maka jibril berkata: Dia berkata yang hak, sedang Dia adalah Dzat Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar, mereka berkata semuanya seperti apa yang dikatakan Jibril, hingga Jibril itu sampai kepada apa yang Allah subhaanahu wa ta’ala inginkan,”

Di dalam hadits ini ada penegasan bahwa Jibril turun membawa wahyu dari atas langit yang tujuh, dia melewatinya seraya turun hingga sampai kepada apa yang Allah inginkan. Ini ada gambaran bahwa Allah subhaanahu wa ta’ala, di atas langit di atas Arasy-Nya terpisah dari makhluk-Nya, sebagaimana apa yang dikatakan oleh Abdullah Ibnul Mubarak tatkala ditanya dengan apa kita bisa mengetahui Tuhan kita ? Beliau menjawab: Dengan keberadaan Dia ada di atas Arasy-Nya terpisah dari makhluk-Nya.

Ini adalah perkataan semua para imam Islam, berbeda dengan jahmiyyah huluuliyyah dan para ahli filsafat, serta pengikut paham wihdatul wujud dan ahli bid’ah lainnya. Allah subhaanahu wa ta’ala telah merahmati Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang selalu berpegang dengan dua wahyu (Al Kitab dan Sunnah).

Telah sah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah mencatat kitab sebelum menciptakan makhluk-Nya, sesungguhnya Rahmat-Ku telah mendahului murka-Ku, dan itu ada di sisi-Nya di atas Arasy”.

Dan dalam hadits Al Abbas Ibnu Abdul Muththalib radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh, Abu Dawud, At Tirmidzi dan Ibnu Majah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan langit yang tujuh dan apa yang ada di antara keduanya, kemudian beliau berkata:

“Dan di atas itu semua ada laut yang jarak antara bawah dan atasnya adalah seperti jarak antara langit yang satu dengan langit yang lain, kemudian di atas itu semua ada delapan aulaal (hewan seperti kijang) yang di mana jarak antara telapak kakinya dengan lututnya adalah seperti jarak antara langit dengan langit, kemudian di atas punggungnya ada Arasy yang di mana jarak antara atas dan bawahnya seperti jarak antara langit dengan langit, sedangkan Allah subhaanahu wa ta’ala ada di atas itu”.

Dan di dalam hadits Ibnu masud yang diriwayatkan oleh Abdurrahman Ibnu Mahdiy guru Imam Ahmad dari Hammad Ibnu Salimah dari ‘Ashim dari Zirr dari Abdullah Ibnu Mas’ud berkata:

”Antara langit terendah dengan langit berikutnya adalah jarak perjalanan lima ratus tahun, dan antara langit dengan langit berikutnya adalah jarak perjalanan lima ratus tahun, jarak antara langit yang ke tujuh dengan Kursiy adalah lima ratus tahun, dan jarak antara Kursiy dengan air adalah lima ratus tahun, sedangkan Arasy ada di atas air, dan Allah subhaanahu wa ta’ala di atas Arasy-Nya, tidak ada yang samar atas-Nya dari amalan-amalan kalian”.

Orang-orang Jahmiyyah mereka mengingkari nash-nash ini dan bersikeras di dalam pendustaan mereka dihukumi sebagai orang-orang kafir menurut Ahlul Sunnah wal jama’ah.

Kadar yang kami sebutkan ini cukup dalam menjelaskan keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah tentang ‘Uluww Allah subhaanahu wa ta’ala di atas semua makhluk-Nya, serta istiwaa-Nya di atas Arasy. Banyak sekali dalil-dalil dari Al Kitab dan Sunnah atas hal itu, seandainya kita menyebutkan semua yang ada tentu akan menjadi kitab besar. Segala puji bagi Allah yang telah menjaga bagi umat ini agamanya dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya dengan penukilan para ulama yang di mana kedudukan mereka di tengah umat ini seperti kedudukan para nabi di tengah-tengah Bani Israil, dan Dialah yang telah memberi petunjuk kita kepada hal itu. Dengan perantaraan para ulama Allah telah menggurkan setiap bid’ah dan kesesatan yang terjadi pada umat ini, alangkah besar sekali nikmat-Nya ini bagi orang yang menyambut kebenaran dengan penuh hati penerimaan, dia mengetahuinya dan ridha dengannya. Kita memohon kepada Allah mudah-mudahan kita dijadikan orang-orang yang bersyukur terhadap nikmat-nikmatNya lagi selalu memuji-Nya. Bagi-Nya segala pujian, kami tidak bisa menghitung pujian terhadap-Nya, Dia itu sebagaimana apa yang Dia pujikan terhadap Dzat-Nya dan melebihi pujian makhluk-makhlukNya

Ahlus Sunnah mengenal Tuhan-nya dengan sifat-sifat yang Allah terangkan kepada mereka tentang Dzat-Nya, berupa sifat-sifat kesempurnaan yang layak bagi keagungan-Nya, mereka menetapkan bagi-Nya subhaanahu wa ta’ala yang telah Dia tetapkan bagi Diri-Nya, dan oleh Rasul-Nya, dengan penetapan tanpa tamtsil serta mensucikan tanpa ta’thil. Mereka mengenal Tuhannya dengan af’aal-Nya dan keajaiban makhluk-makhlukNya, dan mengenal-Nya dengan apa yang telah Dia tampakkan terhadap mereka berupa kebesaran kekuasaan-Nya, serta dengan apa yang telah Dia limpahkan bagi mereka berupa nikmat-nikmatNya yang agung. Mereka menyembah Tuhan Yang Esa, Tempat menuju, Tuhan Yang Satu. Dialah Tuhan Yang di mana uluuhiyyah adalah sifat-Nya, makhluk adalah makhluk-Nya, kerajaan adalah kerajaan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam uluuhiyyah-Nya, dalam rubuubiyyah-Nya, dan dalam kerajaan-Nya, Maha Suci Dia, Sebagaimana firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

“Katakanlah; aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, Sembahan manusia,” (An Naas: 1-3).

Mereka Ahlus Sunnah mensucikan Allah dari apa yang selayaknya Dia disucikan darinya dan dari segala hal yang mengandung aib dan kekurangan, dan dari apa yang disifatkan oleh orang-orang Jahmiyyah dan Ahlul Bid’ah dari hal yang tidak layak dengan keagungan dan kebesaranNya.

Adapun Jahmiyyah mereka menta’thilkan Allah dari sifat-sifat kesempurnaan, dan pada akhirnya mereka itu menyembah sesuatu yang tidak ada, karena mereka mensifati-Nya dengan sifat-sifat yang menafikan kesempurnaan. Pada akhirnya Allah diberi sifat-sifat yang sangat kurang, mereka terkadang serupakan Allah dengan hal-hal yang kurang, dan terkadang mereka serupakan dengan sesuatu yang tidak ada, mereka pada dasarnya adalah Musyabbihah sebagaimana yang engkau ketahui dari keadaan mereka, kesesatannya dan ujungnya.

Adapun apa yang dilontarkan oleh orang Jahmiyyah yang jahil itu, yaitu ayat-ayat tentang Ilmu Allah, seperti firman-Nya:

”Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada,“ (Al Hadid: 4).

Dan Firman-Nya:

”Tiada pembicaraan, rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah Yang keempatnya,“ (Al Mujadilah: 7).

Maka tidak ada pertentang antara istiwaa Dia di atas Arasy-Nya dengan peliputan Ilmu-Nya terhadap makhluk-Nya, dan konteks ayat juga menunjukan akan hal itu.

Adapun ayat pertama, maka ini telah di dahului dengan firman-Nya:

”Dia-lah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya,” (Al Hadid: 4)

Dia menyebutkan istiwaa-Nya di atas Arasy-Nya dan menyebutkan peliputan Ilmu-Nya terhadap apa yang ada di bumi dan langit, kemudian Dia berfirman:

”Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada,” (Al Hadid: 4).

Yaitu dengan Ilmu-Nya yang meliputi segala apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi.

Adapun ayat kedua, maka ini juga telah di dahului dengan Ilmu dan diakhiri dengan Ilmu juga, Dia berfirman:

”Tidaklah kamu perhatikan bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dia-lah Yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan rahasia) antar lima orang melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada pembicaraan rahasia antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu,” (Al Mujadilah: 7)

Maka diketahuilah bahwa yang dimaksud adalah pengetahuan Dia akan makhluk-makhlukNya dan sesungguhnya tidak ada yang samar segala sesuatupun dari amalan-amalan mereka atas Dia, sebagaimana firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

“Allah-lah Yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasannya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, Ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu,” (Ath Thalaq: 12).

Dan makna yang kami sebutkan itu adalah apa yang diyakini oleh para ahli tafsir dari kalangan para sahabat, para tabiin, para imam, dan seluruh Ahlus Sunnah.

Adapun orang-orang Jahmiyyah dan para ahli bid’ah mereka itu telah terhalangi dari mengetahui kebenaran, karena penyimpangan mereka darinya, dan kejahilan mereka akan kebenaran itu, dan kejahilan akan Al Qur’an serta As Sunnah, sebagaimana apa yang dikatakan oleh Al ‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah:

Al Kitab terasa berat atas mereka tatkala mereka melihat

Pembatasannya dengan syari’at-syari’at keimanan.

Dan termasuk hal yang maklum adalah bahwa tidak bisa menerima kebenaran kecuali orang yang mencarinya. Adapun ahlul bid’ah maka mereka itu sudah terlanjur mencintai kebid’ahan dan kebathilan yang mereka terjerumus di dalamnya, mereka mendebat dengan kebathilan untuk mengalahkan kebenaran, namun Allah tidak mau kecuali menegakkan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir tidak suka. Dan bila dia telah mengetahui hal itu maka kita harus bertanya kepada orang Jahmiyyah ini dan para ahli bid’ah yang lainnya tentang hal yang tidak layak seorang muslimpun tidak mengetahuinya, karena keIslaman itu tergantung akan pengetahuan akan hal itu, di antara pertanyaan itu adalah apakah makna kalimatul Ikhlas Laa ilaaha Illallaah? Apakah Ilaahiyyah yang dinafikan dengan Laa Annaafiyaah Lil Jinsi? Apa khabarnya? Apakah Ilaahiyyah yang tetap bagi Allah subhaanahu wa ta’ala saja tidak bagi yang lain-Nya? Apakah macam-macam tauhid, apakah nama-namanya, dan apa rukun-rukunNya? Apa makna ikhlas yang Allah perintahkan kepada hamba-hambaNya dan Dia kabarkan bahwa itu hanya milik Dia tidak yang lainNya? Apakah definisi ibadah yang di mana makhluk diciptakan untuk tujuan itu? Apa macam-macam ilmu yang bermanfaat yang di mana seseorang tidak boleh tidak mengetahuinya? Apa makna Nama Allah Yang tidak boleh digunakan untuk nama selain-Nya? Dan bagaimana cara pembentukannya dari mashdar yang merupakan maknanya? Ini harus dijawab, hanya Allah-lah tempat meminta pertolongan dan kepada-Nya kita bersandar, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah yang Maha Tinggi Lagi Maha Agung. Shalawat semoga dilimpahkan kepada Muhammad penghulu para rasul, imam orang-orang yang bertaqwa, kepada keluarganya, dan para sahabat semuanya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan hingga hari pembalasan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar