Jumat, 06 Mei 2011

JIKA SYAIKH USAMAH BIN LADIN TELAH SYAHID (INSYA ALLOH), KAMI TAK AKAN PERNAH MUNDUR SELANGKAH PUN


“Barangsiapa yang menyembah Muhammad –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, maka sesungguhnya Muhammad telah meninggal. Dan barangsiapa yang menyembah Alloh –ta’ala-, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Alloh Maha Hidup dan tak akan pernah meninggal.” (Abu Bakar Ash-Shidiq)

Wahai saudaraku yang kucintai, telah meninggal dunia Rosululloh –shallallaahu ‘alahi wa sallam, dan begitupula telah meninggal setelahnya Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali dan Khalid –semoga Alloh meridhoi mereka semuanya-.

Dan telah meninggal pula ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, Shalahuddin al-Ayyubi, dan al-Qutuz (Saifuddin). Begitupula telah meninggal ‘Abdullah ‘Azzam dan yang lainnya, semoga Alloh –ta’ala- merahmati mereka semua.

Akan tetapi sekali-kali tidak, sekali-kali tidak, dan sekali-kali dakwah di jalan Alloh –ta’ala- tidak akan terhenti selamanya.

Sekali-kali tidak, sekali-kali tidak, dan sekali-kali tidak akan padam api keimanan di dalam hati hamba-hamba Alloh –ta’ala-.

Dan sekali-kali tidak, sekali-kali tidak, panji jihad ini sekali-kali tak akan berhenti untuk dikibarkan di seluruh belahan bumi. Tentu hal ini dengan izin Alloh –ta’ala-.

Inilah dien kita, dan inilah keyakinan kita. Maka, barangsiapa yang mengira (berkeyakinan) bahwa kita akan mundur (kalah) disebabkan kematian pemimpin kita, atau karena ditawan, sebagaimana mundurnya (kekalahan) kebanyakan dari tentara-tentara kafir pada masa lampau, dan kekalahan mereka pada masa mendatang dengan izin Alloh –ta’ala-, maka dia telah sesat dengan kesesatan yang amat jauh.

Maka, bacalah tarikh (sejarah) kami. Bacalah perjalanan sosok yang kami cintai, Muhammad –shallallaahu ‘alahi wa sallam-. Begitupula bacalah apa yang aku tulis tadi, yaitu perkataan Abu Bakar Ash-Shiddiq –radhiyallahu ta’ala ‘anhu-.

من كان يعبد محمّدا(( صلـّى الله عليه وسلـّم)) فإن محمـّدا قد مات ، ومن كان يعبد الله تعالى فإنّ الله حيّ لا يموت .
“Barangsiapa yang menyembah Muhammad –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, maka sesungguhnya Muhammad telah mati. Dan barangsiapa yang menyembah Alloh –ta’ala-, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Alloh Maha Hidup dan tak akan pernah mati.”

Dengan tetap memuji Alloh –ta’ala-, bahwa kami adalah umat yang akan melahirkan pemimpin-pemimpin dan pasukan-pasukan yang amat banyak.

Begitu indah perkataan Syaikh kami dan sosok yang kami cintai, Abu al-Walid Abdul Wahhab al-Masyhadani, menteri Urusan Agama Daulah Islam ‘Iraq ketika mengumumkan syahidnya sosok yang amat dicintai dan amat berharga, Abu ‘Umar al Baghdadi, dan Abu Hamzah al Muhajir, semoga Alloh –ta’ala- merahmati keduanya dan mempertemukan kami dengan keduanya di Jannah Firdaus yang tertinggi.

Kutipan (dari Syaikh Abu al-Walid Abdul Wahhab al-Masyhadani):

Pada kesempatan ini, kami ingin mengingatkan kepada ikhwan-ikhwan sekalian seiman dan para penolong daulah Islam di manapun berada, yang hati-hatinya mempunyai ikatan dengan kedua syaikh tersebut (Abu ‘Umar al Baghdadi, dan Abu Hamzah al Muhajiri).

Kami berikan kabar gembira, bahwa kematian seorang pemimpin dan jatuhnya mereka di medan pertempuran merupakan hal yang tidak bisa dipungkiri dalam jihad, dan hal itu merupakan sunnatullah bagi hamba-Nya. Sebagaimana kami meyakini bahwa hal itu merupakan tanda-tanda dari kebenaran suatu manhaj. Dan kebenaran bagi orang-orang yang berjalan di atas jalannya.

Sesungguhnya, darah mereka adalah salah satu penyebab datangnya keberkahan, kekuatan, dan kemenangan dari Rabb semesta alam. Maka, demi Alloh, tidaklah seorang penunggang kuda yang mengokohkan kami di suatu pertempuran, kecuali Alloh akan memberikan kemenangan kepada kami dengan darahnya di luar perkiraan kami. Maka, keberkahan jihad kita saat ini ada pada darah pemimpin kita.

Wahai saudara-saudaraku seiman, tetaplah kalian kokoh pada kebenaran dalam menolong dien Alloh dan para wali-Nya. Dan lupakanlah akan terbunuhnya dua pemimpin kita, dan jadikanlah darah keduanya sebagai cahaya dan api. Cahaya yang akan menerangi kalian dan memudahkan urusan kalian. Dan sebagai api bagi musuh-musuh dien (Islam) ini.

إِن يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهُ وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَاء وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’ . Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dhalim.” (Ali Imran : 140 )

Inilah dien kita, inilah keyakinan kita. Maka barangsiapa yang mengira bahwa kami akan mundur (kalah) dengan kesyahidan atau tertawannya pemimpin kami, maka binasalah ia dengan kemarahannya.

Dan dengan izin Alloh –ta’ala-, kami adalah umat yang sekali-kali tidak akan pernah binasa selama waktu masih berputar. Dan ketahuilah, bahwa jika seorang pemimpin atau syaikh kami meninggal atau tertawan, maka Alloh –ta’ala- akan menggantikan bagi kami seorang yang mampu membawa panji jihad ini, dan akan menghinakan orang-orang yang sesat dan rusak.

Adapun kalian wahai musuh-musuh Alloh –ta’ala-. Wahai orang-orang yang bergembira dengan kematian pemimpin kami, maka dengan izin Alloh –ta’ala-, aku akan berikan kabar gembira dengan kejahatan yang kalian lakukan, bahwa kelak panji Islam ini akan mengangkat al-haq, dan kalian akan tunduk.

Dan panji jihad ini akan tetap tegak, dan akan berkibar di atas rumah-rumah di seluruh penjuru dunia. Dan kalian akan tunduk.

Dan kami akan membebaskan al-Aqsa, Palestina, ‘Iraq, dan Afghanistan dengan kekuatan Alloh –ta’ala-, dengan dibantu oleh sayap mujahidin yang suci.

Dan dengan izin Alloh –ta’ala- kalian akan dilemparkan ke dalam adzab yang amat keras pada hari Kiamat. Maka, bergembiralah kalian sejenak dengan kesyahidan pemimpin kami dan penangkapan kalian atas mereka.

Akan tetapi, sekali-kali tidak, sekali-kali tidak, dan sekali-kali kegembiraan kalian tidak akan berlangsung lama dengan pertolongan Alloh –ta’ala-. Dan sesungguhnya besok, kami akan melihatnya dalam waktu yang dekat.

Kalian kelak akan menyaksikan kebenaran perkataanku ini, cepat ataupun lambat dengan izin Alloh –ta’ala-.

Adapun kalian wahai syuhada’ yang suci, maka diri kami amat bersedih dengan kesyahidan yang kalian peroleh.

Ya, kami amat bersedih karena kami tidak bisa seperti kalian.

Dengan izin Alloh –ta’ala- kalian telah mendapatkan keridho’an dari Rabb kalian dan mendapatkan keberuntungan dengan syahadah yang kalian sangat menginginkannya. Mudah-mudahan Alloh memberikan kebahagiaan kepada kalian –dengan izin-Nya- dengan syahadah yang kalian peroleh itu. Sebagaimana Alloh –ta’ala- berfirman:

وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ (169) فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (170) يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ (آل عمران:171(
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bersenang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bersenang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.” ( Ali Imran : 169-171 )

Diriwayatkan dari Masyuq, bahwa dia berkata, “Kami bertanya kepada ‘Abdullah bin Mas’ud tentang ayat:

(وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ(
Jangan kalian mengira bahwa orang terbunuh dijalan Alloh adalah mati. Namun mereka tetap hidup di sisi Rabb mereka dan berlimpah rizqi” (QS. Ali Imran : 169)

Lalu beliau menjawab, bahwa Rasululloh –shallallaahu ‘alahi wa sallam- telah bersabda, “Arwah syuhada’ berada dalam perut-perut burung hijau, memiliki sarang yang bergelatungan di bawah Arsy. Mereka berputar di dalam Jannah sekehendak burung-burung tersebut, lalu kembali sarangnya. Lantas Rabb mereka melihat sembari menawarkan, “Adakah kalian menginginkan sesuatu (nikmat lain)? Mereka menjawab: ‘Apalagi yang kami inginkan, sedang kami bebas berkeliling didalam Jannah? Lalu Alloh –ta’ala- mengulanginya sampai tiga kali, dan merekapun menjawab dengan jawaban serupa. Dan ketika mereka putus asa untuk lepas dari pertanyaan Alloh, maka mereka menjawab, “Wahai Rabb kami, kami ingin agar Engkau berkenan mengembalikan arwah kami dalam jasad kami, agar kami terbunuh di jalan-Mu sekali lagi. Saat Alloh tidak mendapati dari mereka sesuatu yang dibutuhkan, maka Dia membiarkan mereka.” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani –rahimahullaahu ta’ala-)

روى مسلم رحمه الله تعالى عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَضَمَّنَ اللهُ لِمَنْ خَرَجَ فِي سَبِيلِهِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَإِيمَانًا بِي وَتَصْدِيقًا بِرُسُلِي فَهُوَ عَلَيَّ ضَامِنٌ أَنْ أُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ أَرْجِعَهُ إِلَى مَسْكَنِهِ الَّذِي خَرَجَ مِنْهُ نَائِلًا مَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ أَوْ غَنِيمَةٍ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ مَا مِنْ كَلْمٍ يُكْلَمُ فِي سَبِيلِ اللهِ إِلَّا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَهَيْئَتِهِ حِينَ كُلِمَ لَوْنُهُ لَوْنُ دَمٍ وَرِيحُهُ مِسْكٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْلَا أَنْ يَشُقَّ عَلَى الْمُسْلِمِينَ مَا قَعَدْتُ خِلَافَ سَرِيَّةٍ تَغْزُو فِي سَبِيلِ اللهِ أَبَدًا وَلَكِنْ لَا أَجِدُ سَعَةً فَأَحْمِلَهُمْ وَلَا يَجِدُونَ سَعَةً وَيَشُقُّ عَلَيْهِمْ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنِّي وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوَدِدْتُ أَنِّي أَغْزُو فِي سَبِيلِ اللهِ فَأُقْتَلُ ثُمَّ أَغْزُو فَأُقْتَلُ ثُمَّ أَغْزُو فَأُقْتَلُ.

Diriwayatkan dari Imam Muslim, bahwa Abu Hurairoh –radhiyallahu ta’ala ‘anhu- berkata, “Rasululloh –shallallaahu ‘alahi wa sallam- bersabda “Allah menjamin bagi orang yang berperang di jalan-Nya dan tidak ada yang mendorongnya keluar kecuali karena ingin jihad di jalan-Ku, dia beriman kepada-Ku, dan membenarkan para rasul-Ku, maka Aku menjamin akan memasukkannya ke dalam Jannah atau mengembalikannya pulang ke rumahnya dengan membawa kemenangan berupa pahala dan ghanimah (harta rampasan perang). Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak ada seseorang pun yang terluka dalam perang fi sabilillah, melainkan kelak di hari kiamat dia akan datang dalam keadaan luka seperti semula, warnanya warna darah sementara baunya bau minyak kesturi. Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sekiranya tidak memberatkan kaum muslimin, sungguh selamanya aku tidak ingin ketinggalan untuk mengikuti setiap kavaleri di jalan Allah. Namun saya tidak mampu untuk menanggung biaya mereka, sedangkan mereka juga tidak memiliki kelapangan, padahal mereka merasa kecewa jika tidak ikut berperang bersamaku. Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya saya ingin sekali berperang fi sabilillah, kemudian saya terbunuh, lalu saya berperang lagi lalu saya terbunuh, setelah itu saya berperang lagi dan terbunuh.” (HR. Al-Bukhari, dan Muslim)

قال رسول الله صلـّى الله عليه وسلـّم: للشـّهيد عند الله ست خصال: يغفر له في أول دفعة ويرى مقعده من الجنـّة ويجار من عذاب القبر ويأمن من الفزع الأكبر ويوضع على رأسه تاج الوقار الياقوتة منها خير من الدّنيا وما فيها ويزوّج ثنتين وسبعين زوجة من الحور العين ويشفـّع في سبعين من أقربائه (أيضا صحـّحه الألباني رحمه الله تعالى)
Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- bersabda, “Bagi orang syahid di sisi Allah ia beroleh enam perkara, yaitu diampuni dosanya pada awal mengalirnya darahnya, diperlihatkan tempat duduknya di Jannah, dilindungi dari adzab kubur, aman dari kengerian yang besar (hari kiamat), dipakaikan perhiasan iman, dinikahkan dengan al-huur al-‘ain (bidadari Jannah), dan diperkenankan memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari kalangan kerabatnya.” Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani –rahimahullallaahu ta’ala-.

قال تعالى : إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْداً عَلَيْهِ حَقّاً فِي التَّوْرَاةِ وَالْأِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ. (التوبة :111 (
Alloh –ta’ala- juga berfirman, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan Jannah untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah. lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah : 111)
Maka beruntunglah, dan beruntunglah seseorang yang telah melakukan transaksi jual beli dengan Alloh –ta’ala, dan menjual dirinya untuk Alloh –ta’ala-.

فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”

Maka, kupersembahkan untuk syuhada’ kami, pahlawan kami, yang seolah-olah lisan kalian melafadzkan kalimat-kalimat ini:

Ya Alloh, ambillah darahku sampai Engkau meridhoiku…

Ya Alloh, janganlah Engkau mengembalikanku, kecuali diriku telah tercabik-cabik di jalan-Mu..

Ya Alloh, janganlah Engkau menjadikan kuburan menghimpit jasadku…

Ya Alloh, tempatkanlah diriku di tembolok-tembolok burung…

Ya Alloh, siramilah bumi ini dengan darahku, berikanlah pertolongan atas dien kami, dan timpakanlah kesusahan kepada musuh-musuh kami…

Betapa indah perkataan penyair yang saya anggap dengan izin Allah sesuai dengan kalian.

Syuhada kami yang suci sebagaimana yang ku kira dan Allahlah dzat yang pantas untuk menghisabnya.

Jangan kalian katakan bahwa kita kehilangan seorang syahid.

Ketika ia dikelilingi tanah seorang diri.

Saya belum mati karena malaikat ada di sekelilingku.

Disisi Rabbku aku diciptakan sebagai ciptaan yang baru.

Maka buatkanlah dari ideologiku sebuah syair.

Sesungguhnya mengalirnya darah dari luka.

Bangkit sebagai cahaya di awal pagi.

Darahku merupakan bendera kesyahidan yang meninggi.

Telah menaungi langit dengan selendangnya.

Para thaghut akan melintasi setiap medannya.

Sedang kemenangan berada tinggi di puncak gunung.

Kemudian mulai melambung ke istana yang lebih tinggi.

Maka, manakala pembangkang itu merajalela dalam kedhaliman.

Maka ia menghadapkan wajahnya di atas batas naungan.

Dengan bara kematian dan pecahannya ia tak peduli.

Sungguh hanya kepada Allah telah kukorbankan hidupku.

Maka kumohon kepadanya keteguhanku.

Dan manakala darah telah menggenang di dadaku.

Dan tanahpun telah mengelilingi tubuhku yang kaku.

Maka satu pintaku ingatlah aku dalam setiap shalatmu.

Adapun engkau, wahai para Mujahid kami yang suci. Wahai kalian yang kehilangan seorang pemimpin dengan kesyahidannya, maka demi Alloh –ta’ala-, aku mendo’akan bagi kalian agar tetap kokoh dan jadilah kalian sebagai penerus yang baik bagi pendahulu kalian yang baik.

Semoga Alloh –ta’ala- menjaga kalian…

Semoga Alloh –ta’ala- melindungi kalian…

Semoga Alloh –ta’ala- meneguhkan hati kalian…

Semoga Allh –ta’ala- membantu kalian…

Semoga Alloh –ta’ala- menolong kalian…

Semoga Alloh –ta’ala- memberikan ganti bagi kalian dari seorang pemimpin atau mujahid yang telah syahid dengan ganti yang lebih baik dari mereka..

Dan yang terakhir, kuingatkan kalian semuanya dengan firman Alloh –ta’ala-:
قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالمِينَ. (الأنعام:162
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” (Al-An’am : 162)

Semenjak para Nabi –‘alaihimus salam- melakukan dakwah tauhid, maka sebagian dari mereka menghadapi pembunuhan, sebagian yang lain menghadapi penyiksaan dan bahaya. Dan sebagian yang lain kelak datang pada hari kiamat sedangkan dirinya tidak bersama seorangpun. Sebagaimana hal ini telah dikabarkan oleh sosok yang jujur dan dipercaya, kekasih kita, Muhammad –shallallaahu ‘alahi wa sallam-, dalam haditsnya:

“Diperlihatkan kepadaku beberapa umat, lalu aku melihat seorang nabi bersama seorang, dan seorang nabi lagi bersama dua orang dan seorang nabi lagi bersama beberapa orang, dan ada pula seorang nabi yang tidak disertai oleh seorangpun.”
Maka diutuslah Al Habib –shallallaahu ‘alahi wa sallam- dengan dakwah Islam ini. Sehingga, demi bapakku dan ibuku, beliau mengalami penyiksaan, begitupula dengan para shahabatnya –semoga Alloh meridhoi mereka dan mereka ridho kepada Alloh. Dan diantara mereka ada yang terbunuh karena dianiaya, seperti Yasir dan Sumayyah –semoga Alloh meridhoi kedua-.

Dan kondisi seperti ini akan berlangsung sampai zaman kita sekarang ini. Dakwah di jalan Alloh akan selalu dihalang-halangi dengan berbagai macam rintangan, diantaranya ditawan, ditangkap, disiksa dan dibunuh.
Alloh –ta’ala- berfirman:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تدْخُلُوا الجَنَّةَ وَلمَّا يَأتِكُمْ مَثلُ الذِينَ خَلوْا مِنْ قبْلِكُمْ مَسَّتهُمُ البَأسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلزِلُوا حَتــّى يَقولَ الرَّسُولُ وَالذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتى نصْرُ اللهِ ألا إِنَّ نصْرَ اللهِ قرِيبٌ. (البقرة:214(
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Jannah, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Al-Baqarah : 214)

وقال جلّ جلاله :وَلِيُمَحِّصَ اللهُ الذِينَ آمَنُوا وَيَمْحَقَ الكافِرِينَ. (آل عمران:141(
Alloh –ta’ala- juga berfirman: “Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir.” ( Ali Imran : 141 )

عَنْ خَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ قَالَ: (شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً لَهُ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ قُلْنَا لَهُ أَلَا تَسْتَنْصِرُ لَنَا أَلَا تَدْعُو اللهَ لَنَا قَالَ كَانَ الرَّجُلُ فِيمَنْ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ فِي الْأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيهِ فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَتَيْنِ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ أَوْ عَصَبٍ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَاللهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لَا يَخَافُ إِلَّا اللهَ أَوْ الذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ(
Dari diriwayatkan dari Khabab bin Al-Arat, bahwa ia berkata, ”Kami mengadu kepada Rasulullah -shallallahu ’alaih wa sallam- saat beliau sedang bersandar di Ka’bah. Kami berkata kepadanya, ”Apakah engkau tidak memohonkan pertolongan bagi kami? Tidakkah engkau berdo’a kepada Allah untuk kami?” Beliau bersabda, ”Dahulu ada seorang lelaki yang ditanam badannya ke dalam bumi, lalu gergaji diletakkan di atas kepalanya dan dibelah menjadi dua, namun hal itu tidak menghalanginya dari diennya. Dan ada juga yang disisir dengan sisir besi, sehingga terkelupaslah daging dan kulitnya sehingga tampaklah tulangnya, namun hal itu tidak menghalanginya dari diennya. Demi Allah, urusan ini akan disempurnakan oleh Allah sehingga seorang penunggang kuda akan berkelana dari San’aa ke Hadramaut tidak takut apapun selain Allah atau serigala menerkam dombanya, akan tetapi kalian tergesa-gesa!” (HR. Al-Bukhari)

Maka, para shahabat –radhiyallaahu ta’ala ‘anhum- dan orang-orang yang berjalan di atas manhaj mereka sampai saat ini, bahkan sampai hari Kiamat (dengan izin Alloh -ta’ala-) memahami ayat-ayat Alloh –ta’ala- dan hadits-hadits Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam-. Dan mereka mengetahui bahwa dakwah di jalan Alloh ini tidak akan dimenangkan lantaran seorang yang berkumis dan berjenggot.
Maka, kemudian orang-orang yang shalih itu pun berkelana ke segala penjuru untuk menolong dien Alloh –ta’ala-, walaupun ruh, harta benda, dan anak-anak mereka menjadi taruhannya.

Kalian akan melihat pemimpin kami dan mujahid kami yang suci dari golongan ini yang memahami dien Alloh –ta’ala-, walaupun mereka mendapatkan banyak ujian dan bala’, serta syahidnya pemimpin mereka, maka mereka akan tetap kokoh dan tegap serta akan terus berambisi untuk mendapatkan apa yang telah diraih oleh para pendahulu mereka, yaitu berupa Jannah dan bertetangga dengan Rosululloh –shallallaahu ‘alahi wa sallam- ( di Jannah ).

Maka, kami berikan kabar gembira bagi kalian, wahai syuhada’ kami yang berbakti (dengan izin Alloh –ta’ala-) dengan kenikmatan yang besar dan abadi, dengan keridho’an Alloh yang tak akan pernah terputus, dan kenikmatan melihat wajah Rabb semesta alam, serta hidup berdampingan dengan syuhada’ (dengan izin Alloh -ta’ala-)
Dan demi Alloh, aku memohon kepada Alloh agar Dia mengumpulkan kami dan kalian beserta kekasih kita –Shallallaahu ‘alaihi wa sallam- di Jannah Firdaus yang tertinggi.

Ya Alloh, terimalah orang-orang yang syahid diantara kami, dan himpunlah kami dengan mereka bersama syuhada’, para nabi, orang-orang yang shadiq, wahai Dzat yang Maha Penyayang.

Ya Alloh, pakaikanlah kepada mereka pakaian Jannah dan sandingkanlah mereka dengan para bidadari yang anggun.

Ya Alloh, muliakan dan berikanlah manfaat kepada mereka, serta angkatlah derajat dan kedudukan mereka.

Ya Alloh, jadikanlah arwah mereka di dalam tembolok-tembolok burung, sehingga mereka bisa terbang sesuka hati.

Ya Alloh, himpunlah kami dengan mereka bersama-sama dengan seorang kekasih kami, Muhammad –shallallaahu ‘alahi wa sallam-, cepat ataupun lambat.

Ya Alloh, muliakanlah kami semua sebagaimana Engkau memuliakan mereka.

Ya Alloh, bebaskanlah saudara-saudaranya kami yang ditawan (oleh orang-orang kafir) pada umumnya, dan terkhusus pemimpin dan mahkota kami, seperti syaikh Abu al-Walid al-Maqdisi, syaikh Abu Muhammad al-Maqdisi, Syaikh Khalid Rasyid, Syaikh ‘Umar al-Haddusyi… dan yang lainnya.

Ya Alloh, perbaikilah keikhlasan mereka, berikanlah kekuatan dan kokohkanlah keimanan mereka.

Ya Alloh, kokohkanlah kedudukan kepada mereka.

Ya Alloh, binasakanlah orang-orang yang telah menyiksa mereka, dan timpakanlah siksa yang amat dasyat.

Ya Alloh, porak-porandakan segala urusan mereka dan jadikanlah makar mereka kebinasaan bagi mereka.

Ya Alloh, segerakanlah rahmat-Mu, karunia-Mu, kemuliaan-Mu, dan angerah-Mu, himpunlah kami bersama saudara-saudara kami dari kalangan mujahidin, dan mudahkanlah kami dalam hal tersebut. Kabulkanlah wahai Rabb segala sesembahan, Penyebab segala kejadian, Pendengar segala seruan, dan Pengabul segala do’a.

Ya Alloh, Engkau memerintahkan kepada kami agar memanjatkan do’a, dan memberikan janji kepada kami untuk mengabulkan do’a kami. Maka kami di sini, wahai penolong kami, kami berdo’a sebagaimana yang Engkau perintahkan. Maka, kabulkanlah do’a kami sesuai janji-Mu kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mampu untuk mengabulkan permohonan kami. Engkaulah sebaik-baik pelindung dan penolong bagi kami.

Semoga shalawat selalu tercurahkan kepada imam Mujahidin dan pemimpin para pemilik dahi yang berseri dan keluarganya, serta para shahabatnya semua.

Penulis: al Akh Muhibbu Ru’yati ar Rahman

Alih Bahasa: NUB

Dinukil dari: Syumukh al-Islaam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar