Senin, 18 April 2011

Mengenal Al Bid’a

Salamah bin Nufail Al Kanadi meriwayatkan “pada saat saya dengan duduk dengan Rasulullah (saw), seorang laki-laki datang, “Yaa Rasulullah, orang-orang telah meninggalkan kuda-kudanya dan telah meletakkan senjatanya, kemudian mereka mengatakan bahwa tidak ada lagi jihad dan bahwa perang telah berakhir” Rasulullah bangkit dan … beliau (saw) bersabda, “mereka adalah pembohong, peperangan baru saja dimulai, akan ada sekelompok dari ummatku yang berperang demi kebenaran (al Haq), dan Allah akan menyesatkan hati orang-orang selainnya, dan mereka akan berhadapan dengan kelompok itu sampai akhir waktu dan sampai janji Allah terpenuhi, dan kuda-kuda; yang telah diikat pada leher mereka adalah kebaikan sampai hari pengadilan… dan kamu akan mengikuti bagianku setelah terbagi, dan kamu akan berperang satu sama lain dan penyelesaian dari dar ul mu’minien adalah Asy Syam.” (Nasaa’I)

Hadits ini menimbulkan pertanyaan, siapakah kelompok yang dimenangkan, At Taaifah Mansurah? Apakah mereka adalah golongan yang selamat? Terutama ketika ummat hidup dalam kehinaan, dengan tidak adanya syari’ah, pada saat kaum Muslimin diremehkan dimata saudara Muslimnya sendiri membiarkannya sendiri dihadapan musuh. Ketika ada guncangan dari orang-orang murtad, sampai kemurtadan menjadi mainstream kehidupan kaum Muslimin, orang-orang menjadi pengikut hawa nafsunya dan berada dalam kesia-siaan. Pada waktu yang asing ini, kita menemukan diri kita melihat diri kita lebih baik dan lebih pantas untuk mendapatkan kemenagan dan orang-orang mulai bertanya “kapan akan datang keselamatan?”

Allah (swt) mengatakan kepada kita untuk menjadi Rabbaniyien, orang-orang yang pasrah kepada Allah (swt) dalam semua permasalahan. Pertama orang-orang yang rabbaniyien mempunyai aqidah, kita beriman seperti apa yang orang-orang sebelum kita telah beriman, pada apa yang Rasulullah dan para sahabat telah imani, kita sekarang berada ditengah-tengah Murji’ah dan khawarij, kita mengatakan bahwa iman adalah perkataan perbuatan serta niyyah dan sunnah.

Iman adalah perkataan dan perbuatan, ini adalah sesuatu yang nyata, dan niyyah adalah sesuatu yang tersembunyi, dan sunnah adalah mengikuti Rasulullah (saw) berdasarkan pemahaman para shahabat. Kita beriman bahwa kufur meniadakan iman, iman adalah perkataan, perbuatan, niyyah dan sunnah, kufur adalah perkataan, perbuatan, niyyah dan Bid’ah.

Iman ada tingkatan dan cabang-cabangnya, dan semua bercabang, tetapi ada sebagian yang lebih tinggi daripada yang lainnya. Sebagian kufur ada yang akbar (besar) dan ada sebagian yang asghar (kecil), dan syirik ada dua, yang satu adalah Akbar dan yang satu adalah asghar. Namun jika kufur atau syirik diartikan secara umum itu berarti kufur atau syirik akbar sampai sebuah teks-teks ketuhanan membuktikan lain.

Orang-orang yang mengatakan kufur perbuatan adalah kufur asghar, dan kufur iman adalah kufur akbar – itu adalah sebuah perkataan yang inovasi, itu adalah perkataan murji’ah. Mereka membedakan antara perkataan dan perbuatan dari iman, dan membedakan kufur dari perkataan dan perbuatan. Kita percaya bahwa perkataan “tidak ada jalan bagi seseorang menjadi kafir tanpa tidak beriman dalam hatinya” itu adalah bid’ah; kita percaya bahwa menyangkal bisa dengan hati, perkataan atau perbuatan. Kita percaya bahwa perbuatan yang tampak adalah bukti dari perbuatan yang tersembunyi – yaitu niyyah dalam hati – karena dimana saja ada perbuatan, pasti ada kemauan, kecuali dengan paksaan.

Kufur itu banyak macamnya, itu bisa kufur dari kebodohan, dan bisa kufur I’raad – berpaling dari dien, kebanyakan kekufuran orang-orang adalah kufur karena sikap keras kepala (I’raad). Itu adalah kufur yang Rasulullah perangi orang-orangnya, dan kufur dari kebanyakan golongan dan orang-orang adalah selalu berhubungan dengan ibadah. Ibadah adalah sesuatu yang kita tinggikan, cintai, muliakan, taati, adalah sebuah bentuk ibadah, golongan yang menyimpang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat (samar), orang-orang yang mempunyai kerancuan menggantikannya dari potongan ayat-ayat yang jelas, dan mereka mengikuti hawa daripada wahyu, pada Qur’an dan sunnah. Bid’ah tidak semuanya sama, ada bid’ah besar – bid’ah kubra dan bid’ah duna bid’ah. Seseorang yang terlibat dalam bid’ah yang lebih kecil disebut mubtadi’, tetapi seseorang yang terlibat dalam bid’ah kubra disebut murtad.

Allah (swt) berfirman,

“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: "Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami." Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu.

. Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agama-Nya. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggallah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

Dan mereka mengatakan: "Inilah hewan ternak dan tanaman yang dilarang; tidak boleh memakannya, kecuali orang yang kami kehendaki", menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan menungganginya dan ada binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah waktu menyembelihny, semata-mata membuat-buat kedustaan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap apa yang selalu mereka ada-adakan.

Dan mereka mengatakan: "Apa yang ada dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami dan diharamkan atas wanita kami," dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, maka pria dan wanita sama-sama boleh memakannya. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap ketetapan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak mengetahui dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezki-kan pada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk” (QS Al An’aam 6: 136-140)

Ini adalah dimana orang-orang telah memperbaharui penyembahan mereka, pada saat mereka berharap untuk menyembah Allah (swt) semata; mereka menawarkan menyembah kepada selain daripada Allah (swt).

Kami percaya bahwa bid’ah dari munafiqun pada saat mereka mengambil dien mereka sebagai sebuah keringanan untuk melindungi hidup dan harta mereka. Orang-orang munafiq menggunakan Islam, untuk melindungi diri mereka dan kaum Muslimin, dia mendeklarasikan Islam sebagai sebuah tindakan pencegahan untuk melindungi hidupnya.

Ada banyak bid’ah seperti bid’ah ta’wil, atau Khawarij. Bid’ah murji’ah, Ahlu Sunnah Wal Jama’ah tidak pernah berbeda pandangan tentang kufur akbar atau syirik akbar, namun mereka hanya tidak sepakat dalam bid’ah, terutama sekali pada apa yang datang setelah tiadanya Rasulullah (saw). Kita mengetahui bahwa sebagian bid’ah itu makruh, seperti mengumpulkan orang-orang dipadang Arafah setelah shalat, atau berdoa setiap setelah selesai shalat.

Kita beriman pada Allah dengan nama dan sifatNya, dan kita berada diantara mu’awillah (orang-orang yang membuat interpretasi atas nama dan sifat Allah) dan mushabihah, agaknya kita adalah mutsabbitah – kita memperkokohnya secara harfiah saja tantang nama dan sifat Allah tanpa bertanya bagaimana. Murji’ah mengatakan bahwa Allah (swt) harus memaafkan semua makhluknya, bahkan musyrikien karena Dia (swt) adalah pengampun, dimana orang-orang Khawarij dan Muta’zillah mengatakan bahwa Allah harus menguhukum semua orang yang melakukan dosa, dengan kata lain Allah tidak memenuhi janjinya. Ahlu Sunnah Wal Jama’ah mengatakan bahwa Allah akan memenuhi janjiNya untuk memaafkan, dan janjiNya untuk menghukum ada dalam tanganNya apakah Dia menghukum atau tidak.

Kita percaya pada semua apa yang Rasulullah (saw) bawa tentang hal-hal ghaib, dalam singgasana Allah, tentang sirat, tentang Mizan, tentang hashr, padang masyar, dan siksa kubur, juga pertanyaan kubur – semua sebagai haq, kita beriman pada Qadr, bahwa Allah telah menciptakan kita dan Dia telah menciptakan perbuatan kita dan berusaha, semuanya yang kita lakukan adalah subjek dari kehendak Allah (swt), tetapi ketika kita melakukan – kita melakukannya dengan kemauan kita, walaupun Allah (swt) mengetahui apa yang kita lakukan dan Dia (swt) adalah pencipta semua perbuatan kita, pada saat jabariyyah mengatakan bahwa Allah memaksa atas perbuatan kita, dan qadariyyah mengatakan bahwa Allah tidak mengatur perbuatan kita, bahwa kita mempunyai kemauan yang bebas untuk melakukan perbuatan kita sendiri.

Sungguh, kita harus memegang teguh Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman para Shahabat (ra) dan berhenti untuk membuat inovasi didalam dien Islam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar